potongan daun kering pada permukaan telapak tangan. 
sisa kepahitan sebuah kenangan yang ingin ku buang.
 semudah aku meniupnya terjatuh menghempas tanah, 
semudah itu pula aku harus segera melupakannya.
 
 


Kini, hati sudah tak terpenjara oleh luka. Pemasok luka bertukar kerja dengan pemasok bahagia. Tak ada yang terlalu lama untuk mempertahankan, tak ada juga yang terlalu cepat untuk melepaskan. Karena waktulah yang menentukan ketepatan.

Jika kini aku sudah bisa melepas, mungkin Tuhan sudah menyiapkan seorang yang pas. Mungkin kamu orangnya, mungkin kamu pemegang kunci hatiku yang baru, dan mungkin kamu calon pemilik hatiku. Aku tidak sedang menerka-nerka, tapi sedang melahirkan cinta agar terbiasa. Seperti senyuman yang nantinya akan kau sponsorkan. Seperti ada seribu kupu-kupu di dalam perutku ketika mata beradu. Mungkin seperti itu.

Mulanya aku sulit untuk menerima, sebab batin terlanjur luntur rasa percayanya pada cinta. Aku takut untuk mulai membuka hati, namun lebih takut lagi jika kelak tak terobati lagi luka ini.
Lalu kamu datang. Seperti kunang-kunang benderang ketika gelap malam menjelang. Kamu begitu sabar mengetuk pintu di dada. Seperti memanggil cinta itu dari tiada menjadi ada. Sungguh hangat terasa, ketika adamu melipur lara. Semoga ini bukan untuk sementara, yang aku ingin ini tak ada habisnya.

Pada awalnya aku takut jatuh dan sama sekali tidak menemukan tangan untuk kurengkuh. Aku takut menggantungkan perasaan, namun malah berakhir dengan bertepuk sebelah tangan. Aku takut menitipkan hati lalu kemudian justru tersakiti. Namun di saat aku benar-benar menunggu datangnya kebahagiaan, kamu didatangkan oleh Tuhan. Mungkin karena itulah aku kemudian menetapkan kamu, semoga rasa kita kelak akan saling temu.

Mencintai kadang memang harus menunggu. Menunggu seseorang yang tepat, menunggu jalan terbuka agar tak tersesat, menunggu waktu yang seringkali mengajak debat. Sebelumnya mungkin ada luka yang tak kasat mata di dalam dada. Aku pun sempat kehilangan rasa percaya bahwa hati ini juga berhak bahagia. Sampai akhirnya sosokmu datang di duniaku, semesta pikiranku. Dirimu bukanlah sosok sempurna yang memiliki segala. Kau itu satu yang Tuhan hadirkan untukku, yang membuatku percaya bahwa dicintai bukan lagi hal yang semu.

Biarlah lewat kamu, cinta bisa bekerja tanpa diganggu. Biarlah lewat aku, cinta bisa mengembalikan percaya yang telah layu. Biarlah lewat kita, cinta bisa menceritakan keahliannya. Biarlah lewat cinta, kita bisa sama-sama menggandakan bahagia. Biarlah segala rasa yang sedang mengantri tuk dicicipi menjadi saksi, bahwa kita memang ditakdirkan saling mencintai.

Aku ingin pada kita cinta menjadi poros utama. Kemanapun menuju, akulah tujuanmu. Kemanapun kamu melangkah, ada aku di sisimu. Seberapa lama pun waktu akhirnya, semoga semesta memang menjodohkan kita dan luka takkan mendahului gerakan cinta untuk sampai ke tempat kita.

Banyak harapan kutitipkan pada Tuhan. Agar kita kelak mampu terus bertahan, seberat apapun cobaan yang datang di hadapan. Sebagian aku ada padamu, maka jagalah sepenuh hatimu. Sebagian kamu ada padaku, dan percayalah, aku hanya berencana membagi bahagia ini denganmu. 
Kepada segala limpahan cinta yang datang seketika, ada hatiku yang tak akan mampu melepasnya. Tetaplah menjadi ‘kita’, jangan ada niat memisah.

Tetaplah menjadi ‘kita’, buktikan padaku yang seperti apa yang kausebut dengan cinta. Tetaplah menjadi ‘kita’, dan tunjukkan pada dunia bagaimana pada akhirnya kita sanggup bahagia. Tetaplah menjadi ‘kita’ dan pada masing-masing, kita pelihara apa yang semestinya kita jaga.
Hatiku mungkin pernah patah. Langkahku tak jarang goyah dan kehilangan arah. Mencari jawaban di tengah hati yang hampa hanya menghasilkan bingung berkepanjangan. Rasanya seperti mencari gelap di tengah malam, lalu hanya kosong yang kutemukan.

Kau mungkin tak sadar kalau hadirmu adalah penerang, yang menjelaskan pandanganku tentang gelap dan hitam, yang menuntunku pada satu jalan untuk menemukan jawaban, yang menunjukkan padaku kalau cinta itu mampu menyembuhkan. Aku ada untukmu, kau tercipta untuk melengkapkan aku. Dalam kebersamaan kita kebenaran cinta kurasa nyata. Kini biar Tuhan yang menentukan cerita dan kita yang menjaga ‘kita’.

Semoga cinta kita tak seperti segitiga bentuknya, yang menyelipkan sudut baru untuk dibagi cintanya. Tapi aku mau seperti lingkaran. Cinta berada di tengah mengedarkan, lalu kita berjalan pada garis yang tak terputuskan. Aku masih amatiran, biarkan hanya denganmu cinta mahir dijalankan.

Lihatlah, cinta sudah melebihi sekarung gula. Betapa manis dan magisnya, ia menyihir aku yang terlalu bahagia menjelaskan rasa yang tiba-tiba ada. Ya namanya cinta, mengalirkan rasa sederhana dan segera menghadirkan sejuta cerita tentang kita. Terima kasih untuk sebuah adamu yang mampu menuliskan cerita-cerita baru. Di perempatan waktu, dengan doa aku menunggu.

Inilah yang kemudian kusebut sebagai jawaban; ketika kita benar-benar telah saling menemukan.
#KolaborasiRasa #reblognewtumblrestipilami
Seringkali aku bertanya-tanya, mengapa kiranya kenangan tercipta tak semudah kita menghapusnya? 

Kuharap ingatan tentang kita masih tersimpan di dalammu, entah di lipatan memorimu sebelah mana, aku tak begitu peduli. Sebab di dalamku, segala tentang kita berputar-putar tanpa henti. Seperti lagu kesukaanku yang liriknya kuhapal jelas, kata demi kata.
Kita pernah seperti cinta dan benci, yang tak pernah bisa lepas satu sama lain. Kita pernah seakrab kelopak dan air mata, tidak peduli sedang sedih maupun bahagia. Hari-hari pernah selalu dipenuhi oleh kamu dan aku sama sekali tak merasa jemu.

Terbiasa akan hadirmu ternyata tak begitu baik untuk hari depanku. Membuatku selalu ingin berada di masa lalu, ketika hati tak perlu lelah mencari-cari jalan keluar untuk melupakan siapapun. Bukan salahmu membuat aku cinta setengah mati, ini salah hati mengapa begitu saja padamu menjatuhkan diri. Memang, tak ada hati yang bisa memilih tujuannya.

Namun, semua kembali kepada bagaimana kita mencinta. Dan seakan kamu adalah laut yang paling dalam, aku entah mengapa rela menyerahkan diri menjadi penyelam yang tetap saja, pada akhirnya tenggelam. Kepadamu, aku pernah mempertaruhkan harga diri hingga rela bertindak bodoh dan rasa malu sudah tak kuacuhkan lagi. Kepadamu aku pernah dengan pasti menggantungkan perasaan, tapi ternyata kita semata-mata angan.

Di antara kita pernah ada rasa yang serupa tergapai, namun nyatanya tak kunjung sampai. Kupikir, detak jantung kita kala berjumpa saling seirama, namun ternyata hanya perasaanku saja. Kupikir, akan kepadaku kamu menjatuhkan cinta, namun ternyata kisah romantis tentang kita tidak akan pernah ada. Ke manapun kamu menuju, aku menunggu kita untuk saling bertemu, tapi ternyata tujuanmu bukanlah aku.
Kamu telah membuat aku pesimis tentang harapan. Betapa karenamu, kurasa aku tak akan mudah lagi percaya pada cinta yang kelak datang. Hati sudah jatuh terlalu jauh, membawa serta kecewa di saku bajunya. Tanpa pernah tahu, semestinya ia juga berbekal obat penyembuh luka. Kemudian, aku merasa benci pada kenyataan yang terjadi; seperti menyalahkan nasibku sendiri atas ketidakberuntunganku memilikimu.

Lalu sekarang apa? Selain luka, masa lalu juga ternyata mewariskan berlaksa kenangan yang sulit untuk kulupa. Di antara sebagian kenangan yang senantiasa berkeliling itu, ada kamu berdiri tegak di balik segala alasan. Mengapa setelah semesta tidak merestui kita, ia juga memberikan kenang-kenangan masa lalu yang ke manapun selalu membayangi langkah-langkah kakiku?

Aku seperti masih berdiam di hari-hari lampau, enggan untuk melangkah, hingga kemudian hampir punah dibalap oleh sang waktu. Aku masih berharap akan kita, saat jelas-jelas kamu sudah berkata tidak. Seharusnya ini bukan salah daya pikirku yang selalu ingat. Ini salahku yang enggan untuk lupa. Dan ketika kini kamu masih senantiasa mengitari benak, kubiarkan hingga akhirnya waktunya menghapusmu; mutlak.
Seharusnya kisah kita itu serupa nostalgia. Tertinggal di masa lalu, tanpa perlu hadir memorak-porandakan air mata.
#DuetKolaborasiRasa #Estipilamireblognewtumblr. Diperuntukkan bagi mereka yang masih belum disanggupkan untuk melupakan masa lalu dengan segala kenangannya. Semoga pada akhirnya, kenangan itu tidak untuk dicari lalu kemudian malah berbalik menyakiti.
yang tak lagi berada di sisi, biasanya kita sebut masa lalu. Masa yang sudah berlalu. Masa yang semula kayu, kini menjadi abu. Masa yang semula aku bersama kamu, kini menjadi aku tanpamu. 
Memang benar kata pepatah; sesuatu seperti lebih terasa berharga ketika hadirnya sudah tak lagi ada. Sama halnya dengan kamu yang sudah tak di sampingku. Kini, kamulah yang kurasa paling berharga, maka kuingin kamu kembali ada. 

Hari-hari yang tanpa kamu, kini tidak lagi terasa menggebu-gebu. Setiap detik menjadi berbeda, setiap langkah kurasa hampa. Pada waktu-waktu yang baru, masih sering kubawa serta kenangan-kenangan yang semestinya sudah berlalu. 
Bukankah masa lalu sebaiknya ditinggal saja di belakang tanpa perlu kembali menghantui sebagai bayang-bayang? Bukankah yang sudah tiada tak perlu kita harapkan untuk kembali ada? Kisah kita, misalnya. 

Tentang kita, seharusnya aku tak lagi boleh berharap apa-apa. Sebab, pada kisah yang telah dirasa usai, di situ ada kehendak Tuhanagar segalanya selesai. Ya, itulah fungsi kata ‘seharusnya’, menjelaskan nyata bahwa sepi ini memang menyiksa jika kulalui sendirian. 

Biarkan saja aku dianggap tak mengerti situasi. Kuanggap saja mereka tak mengerti keinginan hati. 
Tuhan, jikalau aku memang sudah terlalu sering mengesah, ajarkan aku untuk tidak menyesali yang sudah-sudah. Jikalau keinginanku supaya Engkau mau mengembalikan dia padaku itu terlalu berat, ajarkan aku agar kepada rencanaMu aku selalu taat. Jikalau kami memang sudah seharusnya berpisah, ajarkan aku bahwa memang ada waktunya ranting itu akan patah, tak peduli seberapa lama ia mencoba bertahan pada batang.

Aku selalu percaya, bahwa sesuatu yang telah pergi, sebagiannya akan kembali lagi. Sepeninggal kamu, segala luka kini harus kurawat sendiri. Sepeninggal kamu, segala bahagia terasa asing; sebab tak ada tempat berbagi bising. Sepeninggal kamu dari sisi, tak ada detik tanpa permohonan ini kusebut dalam hati: “Semoga dalam pelukanmu, ada bahagia selalu menemani.” 

Tuhan, jika memang kepergian ini yang Kau inginkan, tolong bantu aku mengikhlaskan. Tuhan, jika memang takdir ini yang harus kujalani, tolong bantu aku menguatkan diri sendiri. Sebab sebelumnya, Kau pernah memberiku penjaga hati, yang kini tak lagi tersentuh jemari. 

Pada saatnya nanti, tolong buat aku mengerti bahwa semua yang telah terjadi selalu memiliki arti. Tolong jaga hati masing-masing daripada kami, hingga pada akhirnya dipertemukan lagi.
Meski keadaan sudah tak akan lagi sama, barangkali aku sudah mulai menjadi dewasa yang mampu menerima. Persiapkan aku untuk berbenah dan menyambut pengganti yang telah Kausediakan. 
Semoga hati ini akan lebih siap untuk mulai menerima sebuah ketiadaan.
Pada ketiadaan, aku pernah menaruh harap. Namun kemudian lupa bahwa ia sudah tidak lagi memerlukan jawab.

#DuetKolaborasirasa #estipilamiReblognewtumblr

Terkadang ketika terlalu mencinta, seringkali kita terlupa bahwa tidak semua hati patut diperjuangkan. Sebab, ada hati yang tak mungkin diluluhkan, sekalipun kita sudah berjuang mati-matian. Seperti aku kepada hatimu, misalnya. Menujumu, aku sudah separuh jalan. Namun separuh hatimu saja seakan tak mungkin aku dapatkan. 

Terkadang aku terlalu berusaha untuk menciptakan getaran-getaran itu tampak nyata. Seperti rasa yang tak pernah habis kehilangan asa. Aku menyadari bahwa kamu sama sekali tidak mengerti akan tanda-tanda. Lalu haruskah kita yang sudah aku rangkai dan belum sempat dimulai, menemui kata selesai? 
Kusebut kamu debar tanpa usai. Sebab meski cinta ini tak pernah diberi balasan, tetap pada hatimu aku selalu menginginkan. Kusebut kamu satu-satunya penantian. Sebab untukmu aku selalu menjaga hati, tanpa pernah tahu bagaimana membuat harap ini mati.

Aku mengejarmu, kamu mengejar yang bukan aku. Kita seperti berlari dalam lingkaran berliku yang ujungnya tak akan pernah berbalik menujuku. 
Adakah kiranya setitik aku dalam lubuk hatimu yang terdalam? Sama seperti keinginanku akan kamu yang tak pernah bisa diam. Sempatkah aku untuk bertamu walau tak lebih lama dari waktu-waktu yang telah berlalu? Sebab sama seperti kamu yang selalu berkunjung tanpa memedulikan logika dan hati yang sedang beradu.

Karena di atas segala yang sudah ada, hanya kamu yang kudamba. 
Pernah kucoba menyerah, namun hati sudah tak bisa mengubah arah. Entah apa yang akan terlintas di benakmu jika tahu bahwa aku telah menginginkanmu sedalam itu.
Aku pernah melupakan harga diri hanya demi mendapatkanmu di sisi. Aku merasa tak keberatan tersakiti hanya untuk menjadi milikmu yang sejati. Aku layaknya seorang bodoh yang bahagia. Ah, biar saja. Dan kamu di sana, aku tidak tahu sedang memikirkan apa.

Entah di bagian mana aku di sepanjang garis pedulimu. Mungkin aku hanyalah semu, yang tak pernah terlintas barang seujung kuku. Ada suara-suara yang tidak dengan hati ingin kaudengar, ada senyuman-senyuman yang di matamu tidak begitu bersinar.
Pada langkah-langkahku yang bahkan sudah goyah, kamu pernah menjadi penunjuk arah. Kini, aku hanyalah entah. 

Tentang tujuan hati yang selalu ada namamu tertulis, hanya kamu sumber kenangan manis. Tentang gores luka sisa perasaan yang tersia-sia, hanya kamu satu-satunya penghilang dan pembawa bahagia. Ini bukan cinta buta. Ini hanya cinta yang terlalu menginginkan sebuah ‘kita’. Akankah semua asa menjadi nyata? Ataukah akan tetap percuma segala tumpukan doa? 

Padamu aku masih saja menggantungkan harap yang entah kapan akan terjawab. Padamu aku masih saja mendamba segala sesuatu yang indah tentang kita.
Pada sebuah arah putar balik, aku memaksakannya lalu justru berhenti di satu titik. Memupuk asa dan keyakinan bahwa menunggumu adalah pilihan yang terbaik. Entah akan sampai kapan, mungkin hingga pada nantinya kamu menyadari segala perasaan-perasaan dan berkeinginan untuk membuka pintu hati secara perlahan—yang entah kapan.
Masih enggan aku untuk menyerah, meski bukan padaku kamu menentukan arah dan langkah.

#DuetKolaborasirasa #estipilamiReblognewtumblr