Jangan tanya bagaimana rasanya “jatuh” cinta. Justru aku ingin tahu, apakah “cinta” selalu seceroboh itu?
Baiklah. Bagaimana kalau kita memulainya kembali dari awal? Kamu
pura-pura saja tidak mengenalku, dan dalam kepura-puraan ini anggaplah
kita sedang tidak berpura-pura. Coba, pikirkan kembali bagaimana caranya
kita bisa bertemu? Sebuah kebetulan. Apabila, suatu hari ada yang
mengirimkanmu kotak makan siang, apakah kamu masih mengatakan ini
‘kebetulan’?
Lalu, bagaimana bisa kita bisa saling memberi, padahal melihat wajah
aslinya pun belum. Atau, bagaimana bisa kita saling bercerita dari hati
ke hati, padahal bertukar nomor telepon saja belum. Mengapa kamu terlalu
mudah sekali mempercayai seseorang hanya dari peristiwa yang kau bilang
kebetulan itu?
Lalu apakah dengan hati kamu bisa menilai ketulusan seseorang? Apa
alat ukurnya? Perasaan? Bahkan kita sulit mengukur perasaan kita
sendiri. Entah seberapa dalam perasaan itu berperan.
Definisi nyamanmu berbeda dengan definisi nyamanku. Tentu saja, tapi
kita tak perlu menyamakan definisi kita hanya untuk bisa mengawali
perkenalan. Seperti berenang, tentu kita sudah mengira-ngira kedalaman
kolam renang kita: 500 cm kah, 1 meter kah, 2 meter kah? Aku tidak akan
berenang di kedalaman 2 meter kalau aku hanya sanggup berenang di kolam
yang setengah meter. Atau bisa saja aku tidak memilih kolam manapun,
kemudian hanya duduk-duduk di pinggir kolam. Itu karena aku tidak bisa mau berenang!
Kadang aku memaksakan diriku untuk masuk ke kolam dan berenang di
kolam yang dalam. Aku tahu aku akan tenggelam jika aku tidak hati-hati.
Karena bisa saja kakiku mengalami kram di tengah kolam. Maka, jangan
lupakan pelampung, atau ban! Aku dan kamu butuh itu. Jika tidak punya
pelampung atau ban. Lebih baik jangan. Kita akan tenggelam. Yang bisa
menolong hanya kemampuan berenang yang masih jauh dari kata profesional.
Minta pertolongan adalah salah satunya jalan.
Maka, mari kita berkenalan secara alami. Hilangkan latar belakang
yang kita miliki. Kau tidak akan mengenalku jika sekadar membaca
tulisan-tulisan. Kau tidak akan mengenalku jika sekadar melihat-lihat
avatar atau foto-foto yang telah ter-unggah di dashboard. Mari berkenalan, dengan hati beserta matanya, juga mata beserta hatinya.




0 komentar:
Posting Komentar